Dapat
dikatakan bahwa kurikulum mencakup semua pengalaman belajar anak didik di
sekolah, sedangkan pengajaran menyangkut strategi penyampaian berbagai
pengalaman tersebut. Pengajaran guru bersangkut paut dengan interaksi yang
terencana antara anak didik dan guru agar terwujud pengalaman yang dapat
menghasilkan proses belajar yang diinginkan. Demikian hubungan antara kurikulum
dan pengajar sangatlah erat, karena aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu
sama lain dalam proses perencanaan. Perencanaan kurikulum tidak dapat dilakukan
tanpa memperhatikan prinsip – prinsip belajar mengajar yang ada, sebaliknya perencanaan
kegiatan pengajaran tidak dapat mengabaikan gambaran menyeluruh tentang apa
yang harus dicakup dalam suatu program.
Dari segi
pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapat di bedakan antara sifat yang
bersifat sentralisasi, desentralisasi dan sentraldesentral. Pembagian kategori
ini – tentu saja- akan memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan
kurikulum. Tujuan utama pengembangan kurikulum adalah untuk menciptakan
persatuan dan kesatuan bangsa serta memberikan standar penguasaan yang sama
bagi seluruh wilayah. Latar belakang pengembangan kurikulum menurut Dr. Nana
Saodih yaitu pertama, karena wilayah Indonesia yang sangat luas yang terbentuk
atas pulau-pulau yang letaknya berjauhan. Kedua, kondisi dan karakteristik tiap
daerah berbeda-beda yaitu ada yang daerahnya sangat maju sekali dan ada yang
sangat terbelakang sekali,ada daerah yang tertutup dan ada daerah yang terbuka,
dan ada yang kaya dan miskin. Ketiga, perkembangan dan kemampuan sekolah juga
berbeda-beda yaitu ada sekolah yang sudah mapan mampu berdiiri sendiri dan
melakukan pengembangan sendiri karena memiiki personalia, fasilitas yang
memadai, dan manajemen yang mapan, dan sekolah yang lain kondisinya sangat
memprihatinkan karena segalanya masih berada pada tingkat darurat. Keempat,
adanya golongan atau kelompok tertentu dalam masyarakat yang ingin lebih
mengutamakan kelompoknya dan menggunakan sekolah untuk mencapai tujuan tersebut.
1. Peranan guru dalam
pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi Dalam kurikulum yang bersifat
sentralisasi tugas guru adalah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat,
memilih dan menyusun bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan ,minat dan
tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar yang bervariasi
serta menyusun program dan alat evaluasi yang memudahkan guru dalam
implementasinya. Walaupun kurikulum sudah tersusun dengan berstruktur tetapi
guru masih mempunyai tugas untuk mengaddakan penyempurnaan dan
penyesuaian-penyesuaian. Guru Dan Pengembangan Kurikulum Implementasi kurikulum
hampir seluruhnya bergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan
ketekunan guru. Guru hendaknya mampu memilih dan menciptakan situasi-situasi
belajar yang menggairahkan siswa, mampu memilih dan melaksanakan metode
mengajar yang sesuai dengan kemampuan siswa, bahan pelajaran dan banyak
mengaktifkan siswa, guru hendaknya mampu memilih, menyusun dan melaksanakan
evaluasi baik untuk mengevaluasi perkembangan atau hasil belajar siswa untuk
menilai efisiensi pelaksanaannya itu sendiri.
2. Peranan guru dalam
pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi Kurikulum desentralisasi di
susun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau
daerah. Kuriklum ini dipeeruntukkan bagi suatu sekolah atau lingkungan wilayah
tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini di dasarkan pada karakteristik,
kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah tersebut. Bentuk kurikulum
seperti ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan – kelebihannya adalah :
* Kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan masyarakat setempat.
* Kurikulum sesuai dengan tingkat
dan kemampuan sekolah, baik kemampuan profesioanal, finansial maupun
manajerial.
* Disusun oleh guru-guru sendiri dengan
demikian sangat memudahkan dalam pelaksanaannya.
* Ada motivasi kepada kepada
sekolah untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan kurikulum yang
sebaik-baikny, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi dalam
pengembangan kurikulum.
Adapun beberapa kelemahannya adalah. Guru Dan
Pengembangan Kurikulum :
* Tidak adanya keseragaman, untuk
situasi yang membutuhkan kesesragaman demi persatuan dan kesatuan nasional
* Tidak adanya standar penilaian
yang sama sehingga sukarn untuk diperbandingkan keadaan dan kemajuan suatu
sekolah/wilayah dengan sekolah/wilayah lainnya
* Adanya kesulitan bila terjadi
perpindahan siswa ke sekolah / wilayah lain
* Sukar untuk mengadakan pengeloaan dan
penilaian secara nasional.
* Belum semua sekolah atau daerah mempunyai
kesiapan untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri.
Sumber :
sukamto. 1988. Perencanaan
&pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan. Jakarta :
Depdikbud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.